Pendidikan Pondasi Peradaban

kuttab

Pendidikan merupakan pondasi peradaban sebuah bangsa. Dalam sejarah peradaban negri manapun, pastilah pendidikan merupakan suatu hal yang dikedepankan. Apalagi pada zaman sekarang, dimana kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa dunia pada persaingan global yang semakin hari semakin berat. Tak heran jika pada hari ini setiap bangsa berlomba-lomba membenahi system pendidikan mereka demi meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki agar dapat menghadapi persaingan global tersebut, salah satu langkah yang diambil adalah dengan menciptakan sebuah kurikulum pendidikan.

Jika kita perhatikan dunia pendidikan negri ini, kita akan melihat bahwa system pendidikan hari ini dibangun di atas pondasi yang sangat rapuh, bahkan bisa dikatakan tidak jelas. Berulang kali kurikulum pendidikan negri ini diganti, akan tetapi hasil yang didapatkanpun jauh dari yang diinginkan, bahkan nihil. Masih jelas dalam benak kita pada tahun lalu muncul sebuah kurikulm baru berjudul kurkulum 2013. Namun belum sampai satu tahun, seiring bergantinya pemerintahan, kurikulum tersebut akhirnya dihapuskan. Dan begitulah seterusnya, setiap kali datang mentri baru, muncul juga kurikulum baru, yang sebenarnya pun kurikulum tersebut belum terbukti lebih baik dari sebelumnya. Dunia pendidikan hari ini tak ubah layaknya obyek percobaan dengan anak didik sebagai kelincinya. Bila sistemnya saja sudah tidak jelas, tidak heran jika produk yang dihasilkanpun juga tidak jelas. Selain itu, dunia pendidikan saat ini juga terlalu mengedepankan akal, sehingga melupakan salah satu unsur penting pada manusia, yaitu hati. Tak heran jika pada saat ini kita temui banyak sekali orang yang pintar, akan tetapi memakai kepintarannya untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Bahkan tak jarang mereka menempuh segala cara demi menggapai ambisi mereka masing-masing, meskipun hal itu dapat merugikan orang lain. Dan puncak dari musibah pendidikan hari ini adalah fenomena degradasi akhlak dan kriris moral yang menimpa negri ini, baik itu dari kalangan anak-anak, muda-mudi, maupun orang dewasa.

Sudah saatnya bagi negri ini, yang merupakan negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia, untuk kembali kepada literature aslinya, yaitu Al-Qur’an, As-Sunnah dan Sejarah Peradaban Islam. Sudah selayaknya bagi kita unuk mengalihkan kiblat pendidikan kita, yang sebelumnya selalu saja mengekor dunia barat, kepada manhaj para ulama terdahulu. Jika kita mau mengkaji ulang sejarah islam dengan seksama, tentunya dengan sumber yang benar, maka akan kita dapati betapa dahsyatnya system pendidikan pada waktu itu. Betapa tidak, saat itu peradaban Islam mampu mendominasi dunia selama lebih dari delapan abad. Tidak cukup sampai disitu, ketika itu peradaban Islam memiliki kekuasaan seluas hampir dua pertiga bumi. Tentunya hal itu takkan bisa diraih jika system pendidikannya asal-asalan. Karena faktor terpenting dalam membangun peradaban adalah sumber daya manusia. Jika sumber daya manusianya buruk maka mustahil bagi sebuah negeri untuk membangu peradaban yang tinggi. Dan faktor yang mempengaruhi kualitas sumber daya manusia tak lain adalah sistem pendidikan yang ada. Oleh karena itu, sudah saatnya bagi kita, selaku pewaris peradaban ini, untuk membenahi diri kita dengan mengkaji ulang literatur-literatur pendidikan yang selama ini kita gunakan sehingga kelak dimasa yang akan datang kita dapat mecetak generasi yang lebih baik. Bukan sekedar dari sisi keilmuwan  saja, tapi juga dalam sisi oral dan akhlak.

Kelam

26 desember 2004

Entah apa yang telah kuperbuat. Entah dosa apa yang telah kutunaikan. Tiba-tiba saja kaki ini bergetar begitu kuat, tubuhku berguncang sangat dahsyat, dan saat ku tatap hamparan pantai, gerombolan dari pesisir berlari, menghampiri, dan menghantamku. Seketika tubuhku terpental, koyak, dan lebam. Semua yang kulihat seakan meredup, hingga sesaat sebelum semuanya benar-benar gelap, kumelihat dari kejauhan, ayah, ibu, kakak, adik, semuanya melambaikan tangan. Ketika kubuka mataku, kucoba bangkit dan berdiri, ku lihat sekelilingku, kudapati pemandangan yang sangat menyeramkan. Semuanya luluh lantah bagai buih di samudra. Apa yang terjadi? Dimanakah diriku? Dimanakah ayah dan ibu? Inikah serambi mekah ku? Sambil berlari, aku terus bertanya, mencoba mencari jawabannya.

###

27 maret 2009

Pagi ini tersiar kabar bahwa terjadi banjir bandang di suatu daerah di Tangerang. Dari televisi, aku melihat mayat-mayat bergelimpangan, tangisan anak-anak sahut menyahut berirama dengan jeritan ibu-ibu yang meratapi kepergian sanak familinya. Aku merasa seperti sedang menatap cermin, dan melihat diriku sendiri. Ya…, diriku sekitar 5 tahun silam. Ketika sebuah ombak besar menyapu aceh, memporak-porandakan kampungku, merenggut orang-orang yang kucintai, menjadikan aku, dan ribuan anak-anak aceh lainnya yatim piatu. Entah bagaimana nasibku andai takdir tak mempetemukanku dengan paman, dan memboyongku ke Jakarta. Aku juga teringat tentang bagaimana nasib saudara-saudaraku yang tinggal di Porong, Sidoarjo. Hampir 3 tahun sudah lumpur panas melahap kampung halaman mereka. Hingga saat inipun masalah tersebut tak kunjung tuntas. Ahh… begitu malangnya nasib bangsaku ini, belum juga hujan reda, badai yang lain tiba.

###

28 juni 2010

Cepat kabur, Tara! Cepaaat…!”

Suara itu masih jelas terngiang di kepalaku. suara terakhir dari seorang Bayu, sahabatku. Seharusnya sekarang kau masih disini, Sobat. Seharusnya sekarang kau disamping ku, duduk diatas loteng ini, menatap langit bersama sambil menceritakan impian kita masing-masing untuk merayakan hari ulang tahun kita yang sama. Maafkan aku yang pengecut ini, Sobat. Seharusnya aku tidak meninggalkanmu saat tawuran itu terjadi. Kau menyelamatkanku, tapi aku meninggalkanmu. Masih pantaskah ku menyebutmu sahabat, Bayu? Bagaimanapun, bagiku kau terlalu mulia untuk mati dalam peperangan konyol itu. Kau tak ada kaitannya dengan tawuran itu, tapi kenapa kau yang jadi korban? Maafkan aku, Sobat. Semoga kau mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.

###

20 november 2013

Lagi, lagi, dan lagi… Nestapa serasa tak kunjung bosan mencabikku. Baru seminggu yang lalu aku kehilangan paman yang telah mengasuhku hampir 7 tahun, kini aku benar-benar tak punya siapa-siapa, dan tak punya apa-apa. Si jago merah telah melahap semuanya, harta benda,serta keluarga paman. Entah kenapa semua ini terjadi. Peristiwa ini begitu runtut, bertubi-tubi merajam kehidupanku. Diriku seakan menjadi actor dalam drama ironis yang melakoni setiap skenario yang ada. Tunggu dulu, mungkinkah ini takdir tuhan, atau sebuah skenario busuk mafia kehidupan?

###

31 desember 2013, 1 jam menjelang tahun baru

Aku terpaku disudut hingar bingar yang ada. Semua orang bersorak-sorai menanti kedatangan tahun baru. Aku menepikan diriku dari keramaian. Aku ingin bergemul dengan kesendirian. Aku ingin menghabiskan tahun ini dengan bermuhasabah.  Kupandangi langit malam, kucoba menerawang setiap jengkal hidupku. Kupunguti kepingan memori, kucoba menyambungkan setiap peristiwa yang terjadi. Dari bencana alam, hingga bencana sosial yang merenggut orang-orang yang kucintai, mencacah bumi yang kuhuni. Tak apalah, meski berat aku akan coba mengikhlaskannya. Lagipula itu semua adalah masa lalu. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana diriku ini menghadapi hari esok. Mau tak mau, hidupku harus tetap berlanjut. Aku tak boleh berlarut-larut dalam kelamnya masa laluku. Aku harus move on. Aku tak ingin hidupku juga berakhir ditanduk tragis. Bagaimanapun keadaannya, aku akan tetap bertahan. Aku yakin, apa yang telah dan akan tejadi mampu kuhadapi, karena Allah tidak akan menguji seorang hamba melebihi kemampuannya. Yaaa…, akan kubawa keyakinan ini untuk menggapai impian, harapan, cinta, dan cita yang kudamba.

###

Mentari Baru

“Ayah, aku takut,” ucap Kiky sambil menunduk.

“Apa yang engkau takutkan, Nak?” tanya Pak Probo sambil mengelus rambut putranya. Ayah dan anak itu duduk berdampingan di teras gubuk mereka.

“Sebentar lagi umurku bertambah dan akan terus bertambah hingga aku menjadi dewasa sepertimu. Tetapi aku takut, Ayah. Aku takut menghadapi hari-hari yang penuh pengorbanan itu. Bekerja setiap hari, menafkahi keluarga, menyekolahkan anak, dan berbagai masalah hidup lainnya. Aku tidak siap menghadapi semua itu, aku takut menjadi dewasa, aku takut tidak bisa menjadi sepertimu, Ayah.”

Pak Probo menghela nafas, ditatapnya sang anak sembari tetap mengelus rambutnya. “Tak usah takut, Nak. Dewasa memang masa yang penuh pengorbanan, akan tetapi di setiap pengorbanan pasti ada hal yang bisa kau tuai. Kau tak perlu menjadi seperti ayah. Kau hanya perlu melakukan 3 hal.”

“ 3 hal, apa itu, Ayah?”

“Pertama adalah impian. Impian adalah cita-cita, tujuan, atau harapan yang sangat ingin kau wujudkan. Dengan impian, seseorang bisa menjadi pahlawan atau penjahat, tokoh atau sampah, mulia atau hina. Karena impian merupakan inspirator yang mengatur gerak lakumu, mempengaruhi tutur katamu, serta membentuk kepribadianmu. Setelah kau memiliki impian, buatlah perahu yang akan kau gunakan untuk sampai pada pulau impianmu. Buatlah perahu sekokoh mungkin, hingga bila badai menghantam, ombak tinggi menerjang, dan karang-karang cadas manghadang, perahu itu tetap tegar berlayar. Perahu itu adalah ikhtiar, Nak. Jikalau impian telah kau miliki, ikhtiar telah kau ciptakan, satu hal lagi yang harus kau lakukan adalah tawakal. Tawakal akan menjadi pemandumu dalam menyusuri samudra kehidupan, menjadi nahkoda yang mengantarkanmu pada impian-impianmu, Nak. Andai 3 hal tadi telah kau lakukan, percayalah apa yang menunggumu di masa depan akan lebih indah daripada apa yang kau pikirkan sekarang. Bila saat ini keterbatasan melilitmu begitu kuat, kekurangan melekat pada hidupmu, pun kegagalan tak henti menertawakanmu, tetaplah melangkah, Nak. Ayah yakin, kau pun punya kelebihan yang tak kalah hebat. Karena pada saat ada bayangan, disitu juga ada cahaya. Jadi, apalagi yang kau takutkan, Nak? Tegakkan punggungmu, dongakkan kepalamu, sambutlah masa depan.”

Mendegar untaian kata dari ayahnya tadi, kepala Kiky terdongak keatas. Ditatapnya rembulan, ditatapnya bintang-bintang, ditatapnya langit malam. Dia tersenyum lalu memeluk ayahnya dengan erat. Malam itupun menjadi saksi lahirnya mentari baru.